Selasa, 31 Januari 2012

Laba-Laba Mata Kecil Ditemukan di Menoreh


MatalabiogamaAmauropelma matakecil, jenis baru laba-laba yang ditemukan di Bukit Menoreh.




JAKARTA,TI - Ilmuwan Indonesia menemukan spesies laba-laba gua eksotis di bukit Menoreh, Jawa Tengah. Penemuan Cahyo Rahmadi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini membuka penemuan spesies baru Indonesia di tahun 2012. 

Pinguin Pirang Ditemukan di Antartika


Sosok pinguin chinstrap pirang yang ditemukan di Kepulauan Shetland Selatan. Pinguin ini mengalami isabelinisme.



SHETLAND SELATAN, TI - Sosok pinguin pirang ditemukan di Kepulauan Shetland Selatan, Antartika. Pinguin tersebut mengejutkan tim National Geographic Journey to Antartica. Demikian dilaporkan oleh naturalis David Stephen.

BBC Indonesia Ulat GM memproduksi sutra dengan kualitas seperti jaring laba-laba Ilmuwan Amerika Serikat menciptakan ulat sutra yang telah dimodifikasi secara genetik untuk menghasilkan sutra berkualitas super. Dalam jurnal ilmu pengetahuan PNAS, para ilmuan dari Universitas Wyoming mengatakan tujuan mereka adalah memproduksi sutra dari ulat dengan hasil yang sama kuat dengan jaring laba-laba. Sutra laba-laba memiliki kualitas unggul karena jauh lebih kuat dari besi. Dalam komik, tokoh Spider-Man menggunakan jaring sutra laba-laba untuk menjerat penjahat dan melompat dari gedung-gedung pencakar langit di kota. Para peneliti telah berusaha mereproduksi sutra seperti itu selama puluhan tahun karena menternakkan laba-laba secara komersial tidak memungkinkan. Laba-laba tidak bisa memproduksi cukup jaring untuk kepentingan produksi, selain itu mereka juga cenderung kanibal jika berada di satu tempat bersama-sama. Sebaliknya, ulat sutra mudah diternakkan dan dapat memproduksi sutra dalam jumlah besar, namun kualitas bahan yang dihasilkan tergolong rentan. Selama bertahun-tahun, para peneliti berusaha mengawinkan kualitas-kualitas unggul dari kedua serangga ini dengan mentransplantasi gen laba-laba ke ulat. Namun ulat sutra hasil modifikasi genetik itu masih belum mampu menghasilkan cukup sutra laba-laba hingga saat ini. Ulat yang dinamakan GM itu, diciptakan oleh tim pimpinan Professor Don Jarvis dari Universitas Wyoming dan mampu memproduksi sutra laba-laba dalam jumlah besar. Mengomentari hasil penelitian ini, Dr Christopher Holland dari Universitas Oxford mengatakan temuan itu mewakili langkah menuju produksi komersial sutra super. "Intinya, hasil penelitian ini menunjukkan mereka mampu mengambil satu komponen dari sutra laba-laba dan membuat ulat sutra menenunnya menjadi serat bersama-sama dengan sutra alami mereka," kata Holland. Sutra super ini bisa digunakan untuk memproduksi benang jahit operasi yang lebih kuat atau bahan implan. Namun sutra laba-laba GM juga bisa digunakan sebagai pengganti ramah lingkungan untuk plastik. Ada kekhawatiran mengenai bahaya lingkungan jika ulat GM lepas ke alam bebas, tapi menurut Professor Guy Poppy dari Universitas Southampton, ulat tersebut tidak berbahaya terhadap lingkungan. Sumber :BBC Indonesia Share 21






Ulat GM memproduksi sutra dengan kualitas seperti jaring laba-laba





Ilmuwan Amerika Serikat menciptakan ulat sutra yang telah dimodifikasi secara genetik untuk menghasilkan sutra berkualitas super.

BBC Indonesia Ulat GM memproduksi sutra dengan kualitas seperti jaring laba-laba Ilmuwan Amerika Serikat menciptakan ulat sutra yang telah dimodifikasi secara genetik untuk menghasilkan sutra berkualitas super. Dalam jurnal ilmu pengetahuan PNAS, para ilmuan dari Universitas Wyoming mengatakan tujuan mereka adalah memproduksi sutra dari ulat dengan hasil yang sama kuat dengan jaring laba-laba. Sutra laba-laba memiliki kualitas unggul karena jauh lebih kuat dari besi. Dalam komik, tokoh Spider-Man menggunakan jaring sutra laba-laba untuk menjerat penjahat dan melompat dari gedung-gedung pencakar langit di kota. Para peneliti telah berusaha mereproduksi sutra seperti itu selama puluhan tahun karena menternakkan laba-laba secara komersial tidak memungkinkan. Laba-laba tidak bisa memproduksi cukup jaring untuk kepentingan produksi, selain itu mereka juga cenderung kanibal jika berada di satu tempat bersama-sama. Sebaliknya, ulat sutra mudah diternakkan dan dapat memproduksi sutra dalam jumlah besar, namun kualitas bahan yang dihasilkan tergolong rentan. Selama bertahun-tahun, para peneliti berusaha mengawinkan kualitas-kualitas unggul dari kedua serangga ini dengan mentransplantasi gen laba-laba ke ulat. Namun ulat sutra hasil modifikasi genetik itu masih belum mampu menghasilkan cukup sutra laba-laba hingga saat ini. Ulat yang dinamakan GM itu, diciptakan oleh tim pimpinan Professor Don Jarvis dari Universitas Wyoming dan mampu memproduksi sutra laba-laba dalam jumlah besar. Mengomentari hasil penelitian ini, Dr Christopher Holland dari Universitas Oxford mengatakan temuan itu mewakili langkah menuju produksi komersial sutra super. "Intinya, hasil penelitian ini menunjukkan mereka mampu mengambil satu komponen dari sutra laba-laba dan membuat ulat sutra menenunnya menjadi serat bersama-sama dengan sutra alami mereka," kata Holland. Sutra super ini bisa digunakan untuk memproduksi benang jahit operasi yang lebih kuat atau bahan implan. Namun sutra laba-laba GM juga bisa digunakan sebagai pengganti ramah lingkungan untuk plastik. Ada kekhawatiran mengenai bahaya lingkungan jika ulat GM lepas ke alam bebas, tapi menurut Professor Guy Poppy dari Universitas Southampton, ulat tersebut tidak berbahaya terhadap lingkungan. Sumber :BBC Indonesia Share 21






Ulat GM memproduksi sutra dengan kualitas seperti jaring laba-laba





Ilmuwan Amerika Serikat menciptakan ulat sutra yang telah dimodifikasi secara genetik untuk menghasilkan sutra berkualitas super.

print this page

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons